Postingan

Tak Berujung

Malam ini dingin lebih menusuk Semilirnya seakan memberi kabar sejuk Tapi gadis itu masih duduk dan tertunduk Lihat wajahnya hampir membiru Matanya berkaca dan terlihat layu Ia tak begeming hanya terlihat sendu Tatapan purnama bagai tawa Bintang seakan terlihat bahagia Tapi mereka tak tau hati ia hampa Pil hidup terkadang lebih pahit Layaknya ia dikerumunan yang berhimpit Tak bermakna yang ada hanya rasa sakit Ia berjalan dilorong-lorong sempit Langkahnya jauh dari keramaian sedikit demi sedikit Ia hanya diam sembari berfikir bagaimana untuk pamit

Sebuah Catatan Keprihatinan

Modernitas dan Senja Awal saya berfikir tentang modernitas bagi saya modernitas adalah sebuah konsep  yang membunuh nilai nilai kemanusiaan .. hanya sekedar itu. namun tampaknya moderenitas membunuh semua yang baik tak hanya tentang kemanusiaan, bahkan alam, juga kehidupan, beberapa  tetangga sudah mengabaikan nilai nilai dan adab dalam "bertetangga" atau seseorang yang hanya fokus pada dirinya dan mimpinya, sedih (?) namun itulah buah yang harus kita nikmati dari pohon peraddaban barat.  bebrapa minggu saya hidup di sebuah wilayah dengan tingkat modernitas tertinggi di indonesia, menikmati (?) sama sekali tidak, puluhan senja hadir namun tak satu-pun yang membuat saya ter "Enyuh" untuk berhenti dan menyaksikan senja, sungguh satu senja di tepian kapuas jauh lebih indah di banding ribuan senja disini saya tak habis fikir kemana, dimana lagi anak anak muda menghabiskan waktunya untuk membuat puisi atau mencari inspirasi, maka tepat ketika tempat ini tempa...

Kita bukan kita

hari itu ranting seakan berirama angin semilir pun berkata bahagia Menikmati senja hangat dan merona kita pernah berjalan menapaki tepian pantai kala itu kau petik senar-senar gitar dengan piawai senda guraumu pun pernah hinggapkan rasa damai saat waktu kita cepat berlalu kisah kita bagai tumpangan benalu sampai kita berakhir dipikiran buntu oooh iya, kita bukan lagi kita jalan mu bukan lagi atas dasar cinta mimpi kita telah rusak dengan nyata tak kan ada lagi rasa-rasa yang terpendam biarkan ku bebas diantara waktu yang diam dan selamat menikmati luka dalam

Aku ..

. Aku yang selalu memperhatikanmu, lebih dari setengah waktuku di sekolah tanpa kau pernah sadari Aku yang selalu membantumu di setiap keadaan tanpa kau pernah mengerti Aku pula yang selalu mendo’akanmu di sela hidupku tanpa kau pernah peduli.  Rasa rasa itu, rindu rindu itu, tetap saja percuma dan selalu sia-sia. Meski sebenarnya aku tak pernah begitu kecewa padamu. Senyummu dan keceriaanmu sanggup mengobarkan semangat hidupku. Bagiku tak penting adanya cinta, apabila cinta itu hanya tentang kebahagiaan, melihatmu saja aku sudah bahagia. Jakarta, 9 Oktober 2017

Detik itu ..

Detik itu, engkau lepaskan gengamanmu. Detik itu kau membuat ragaku seolah runtuh. Detik itu pula, kau untuk kali pertamanya berjalan di depanku tanpa melihat aku di blakangmu,                 Tak seperti cerita selalu ada kata di balik perpisahan atau bahkan pelukan,                 Pikiranku kacau, hatiku hancur.                 Membiarkanmu pergi , membawa jutaan rasa dan setengah dari asa ku                 asa yang pernah kau jadikan tempatmu bersandar menepi dari kesedihan Pergilah, aku akan teruskan perjalanan ini walau memang terasa pincang Detik detik itu, kau hapus semua cerita tentang kita, iya kita .. Detik itu . . . . . tepat lima tahun yang lalu A...
mega-mega dunia yang berkilau harta,tahta,jabatan seakan kemelut yang silau sedikit banyak terlena lalu terpukau segala hal mewah jadi ukuran atas kenikmatan lalu lupa dengan orang kecil dipinggiran perlahan menguras lalu rakyat kecil terasingkan lantas ini disebut kemerdekaan namun lupa asing lebih diberdayakan warga sendiri hanya jadi tontonan negara ku agraris namun kini engkau miris si  penguasa dan rakyat kecil yang tepisah garis lantaran ia lupa dengan janji-janji yang super manis -5okt2017-senjaindie-
gemuruh diantara sunyi yang terdengar merdu dari senja yang pergi dan ingin kembali lagi lagi dan lagi kepada pemilik rindu dari rindu yang terkadang tak bertepi kupikir ini tak berarti  atau malah ia berkobar layak api rindu yang diam namun bersarang kuat di hati di penghujung batas senja yang perlahan tenggelam  penikmat senja itu lari dengan bebas  sebab ia tau rindu-rindunya berpadu dengan alam -26sep2017-senjaindie-